Jelang Muktamar NU Ke-34, STT Cipasung Bahas Prasyarat Kemandirian Teknologi

WEBINAR KTMB 2021
September 21, 2021
STT Cipasung Jalin Kerjasama dengan ITERA
December 25, 2021

Senin (20/12/21), Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Cipasung menggelar webinar nasional bertajuk “Peran Perguruan Tinggi NU untuk Merealisasikan Tujuan Muktamar NU Ke-34”. Selain untuk menyambut Muktamar NU ke-34 pada 22-23 Desember 2021, acara yang berlangsung secara daring via Zoom Meeting ini juga sebagai wujud kecintaan dan kepedulian mahasantri Nahdliyin terhadap NU dan Indonesia. 

Dengan menghadirkan narasumber dari berbagai profesi, tajuk ini berusaha menggagas realisasi program dan tujuannya dalam menyongsong kebangkitan kedua (al-nahdlah al-tsaniyah) dari sisi perguruan tinggi NU. Semangat ini terilhami dari agenda Muktamar ke-34, “Satu Abad NU: Kemandirian dalam Berkhidmat untuk Membangun Peradaban Dunia”.

Ketua STT Cipasung, Drs. H. Abdul Chobir, M.T. berharap webinar ini dapat melahirkan pemikiran-pemikiran konstruktif dan bermanfaat, khususnya bagi jamiyah NU dalam perkembangan teknologi informasi. 

“Mudah-mudahan melalui webinar ini, akan dilahirkan pemikiran-pemikiran konstruktif terkait perkembangan teknologi informasi yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi jamiyah Nahdlatul Ulama, tentu dengan tetap memegang teguh kaidah ushul fikih al-muhāfadzatu ‘alal qadīmish shālih wal akhdzu bil jadīdil ashlah”, ungkapnya dalam sambutan.

Menurutnya, kemandirian NU di bidang teknologi bisa dicapai melalui pemanfaatan teknologi yang antikapitalis. “Lebih jauhnya, diharapkan di masa yang akan datang akan lahir pemikiran-pemikiran teknologi yang sufistik dari kampus-kampus di lingkungan perguruan tinggi NU”, sambungnya.

Selain kemandirian perguruan tinggi, kemandirian warga juga menjadi asas dasar kemandirian NU di abad kedua nanti. Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Jawa Barat, Edwan Kardena, Ph.D. mengungkapkan bahwa realisasi tujuan Muktamar NU ke-34 dapat diwujudkan dengan membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang mandiri. Hanya dengan kemandirian inilah NU bisa ikut berperan serta dalam membangun peradaban dunia.

Menurutnya, di antara tantangan terbesar yang dihadapi PTNU ialah penguasaan teknologi informasi. Di era kiwari ini, teknologi merupakan prasyarat kemajuan ilmu pengetahuan.  Berbagai inovasi dalam metode pembelajaran, penguasaan bahasa asing, dan peningkatan bakat (soft skill) hanya bisa ditunjang dengan ketersediaan, penguasaan serta pemanfaatan teknologi.

“Walaupun mahasiswa perguruan tinggi NU kebanyakan dari pesantren yang mempunyai keilmuan keagamaan yang menjadi ciri khasnya, mahasiswa NU harus menguasai IT untuk memperkaya khazanah keilmuannya, serta menjawab tantangan zaman”, ungkap dekan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB itu.

Menyambung Edwan Kardena, Ph.D., Iip Yahya menyatakan bahwa tingkat kesadaran para kiai terhadap transformasi digital terbilang tinggi. Meski demikian, sering kali kesadaran itu belum diiringi oleh fasilitas dakwah yang memadai. 

Karenanya, “… ketersediaan kamera yang bagus, computer editing, dan lain-lain (sebagai) fasilitas pendukung dakwah digital tersebut menjadi wajib untuk diadakan”, tegas Direktur Media Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat itu.

Digitalisasi dakwah ini, lanjut Kang Iip, sapaan akrabnya bisa terwujud dengan bantuan para santri yang pakar di bidang teknis. Para kiai muda juga dapat mengambil peran; tampil mencipta konten dakwah digital menggantikan para kiai sepuh yang belum ingin tampil. 

Menyinggung swasembada teknologi ini, sejatinya persoalan terbesar dalam transformasi digital bukan pada teknologi, melainkan cara mengadopsi dan memberikan konten-konten bermanfaat. Hal ini dibeberkan oleh Dr. techn. Saiful Akbar, Wakil Dekan Bidang Akademik Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. 

Dalam upaya transformasi digital NU, menurutnya, perguruan tinggi dapat berperan dengan merealisasikan beberapa hal, di antaranya peningkatan literasi digital, percepatan transformasi budaya dan perubahan paradigma. Sebagai subjek atas itu semua, ketersediaan SDM IT (baik sebagai developer atau adopter)  mutlak diperlukan supaya pemanfaatan teknologi tepat guna. 

“Tujuan utama transformasi digital adalah tentang seberapa besar dampak riil dari teknologi itu sendiri”, ungkap pembimbing KMNU ITB itu. 

Sebagai pungkasan, ia merekomendasikan adanya integrasi gerakan ekonomi sosial digital, penyusunan strategi dan prioritas untuk mencapai quick win dan pengoperasian external benchmarking. Ini di samping kerja-kerja bersama antara PT dan PBNU atau pesantren di bidang IT, kerja sama antara PTN umum dan PTNU serta optimalisasi peran komunitas NU dan KMNU di PTN umum.

Untuk diketahui, webinar nasional ini diikuti oleh 200-an peserta dari Pesantren Nurul Hidayah Ciamis, UNINUS, ITB, IAIN Syekh Nurjati, IAIN Salatiga, hingga Universitas al-Azhar Kairo  di samping civitas akademika STT Cipasung itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.