Sosok Ruslan Suparlan Lulusan Teknik Industri STT Cipasung, Sang Pejuang Pendidikan

36980021_1445150875631263_2523383472123281408_n
Tim Fusal STT Cipasung Melenggang Ke Semi Final Turnamen GOTI di Universitas Jendral Ahmad Yani Bandung
July 11, 2018
ko
Mahasiswa STT Cipasung di Acara Self Learning Institute Bersama Trans 7
July 18, 2018
Show all

Sosok Ruslan Suparlan Lulusan Teknik Industri STT Cipasung, Sang Pejuang Pendidikan

downloadlk

Menggapai cita cita bukanlah sekadar impian. Inilah energi tersimpan di Kampung Cibuleud, Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat. Laki-laki perempuan, tua muda bersatu padu meratakan bukit membuka  jalan untuk mewujudkan sekolah.

Hasil gambar untuk ruslan suparlan

Desa yang hanya berjarak 12 kilometer dari pusat kota Kabupaten Tasikmalaya ini, memang tercatat sebagi salah satu daerah tertinggal. Untuk bersekolah saja warga harus menempuh perjalanan jauh melintasi bukit dan jalan rusak.

Dibalik semua itu ada Ruslan Suparlan. Sarjana teknik Industri, Sekolah tinggi Teknologi Cipasung (STTC) ia adalah satu satunya warga Cilubeud yang mengenyam pendidikan hingga lulus pendidikan tinggi. Ia tak ingin desanya terus menjadi daerah tertinggal.

Pada 2001 Ruslan mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). PKBM dinilai paling sesuai dengan kemampuan ekonomi, kebutuhan dan waktu yang dimiliki penduduk Desa Sundawenang saat itu.

Besarnya minat masyarakat mengikuti PKBM mendorong Ruslan mengubahnya menjadi SMP Al Madanyiah pada 2007 lalu. Sekolah ini  menjadi sekolah pertama di Sundawenang dan tak memungut biaya dari siswanya. “Ruslan adalah pejuang pendidikan,” kata Muhammad Zen, Kadisdik Kabupaten Tasikmalaya, belum lama ini.

Namun, di sini sekolah bukan sekadar persoalan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Buruknya prasarana dan tingginya biaya transportasi menuju sekolah menjadi kendala tersendiri.Hasil gambar untuk ruslan suparlan

Tapi, dengan segala keterbatasan fasilitas dan guru yang ada semangat belajar tak pernah padam. Para siswa belajar dan kerja praktek langsung di lapangan. Hasilnya dibagi rata untuk biaya operasional sekolah dan sisanya buat uang saku siswa. Dengan cara ini sekolah bisa menggratiskan siswanya dan mandiri dengan kemampuan sendiri.

Tak hanya dari Kampung Cibuleud, kini anak-anak dari Desa Jahiang, Neglasari, Kawungsari yang berjarak dua hingga lima kilometr juga menjadi siswa sekolah Ruslan. Sekolah itu kini menjadi tempat anak-anak di pedalaman Kabupaten Tasikmalaya melanjutkan pendidikan.(CNF)

Selengkapnya : https://www.liputan6.com/news/read/376930/ruslan-suparlan-pejuang-pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *